Penetapan Calon Ketua Umum PC IMM Kota Bengkulu Muscyab Ke-XIX

Pcimmbengkulu.com,  Panitia pemilihan Musyawarah Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muahammdiyah Kota Bengkulu ke-XIX telah membuka pendaftaran calon ketua umum pada tanggal 04 sampai dengan tanggal 12 Januari 2020, adapun berkas yang disampaikan kepada Pimpinan Komisariat adalah Formulir dan syarat-sayat pendaftaran calon ketua umum,

Pada pukul 23.00 WIB panitia pemilihan telah menutup penerimaan berkas ketua umum sesuai dengan tanggal yang ditetapkan oleh panitia pemilihan sebelumnya yang di edarkan ke seluruh Pimpinan Komisariat.

Disampaikan oleh ketua ketua panitia pemilihan Jaka dernata, sampai pada tahap ahir pendaftran di buka pada tanggal 04 sampai dengan 12 Januari 2020 panitia pemilihan telah menerima nama-nama 3 (tiga) nama calon Umum, selanjutnya Panitia pemilihan telah menetapka nama-nama calon ketua umum  PC IMM Kota Bengkulu periode 2020-2021 dengan nama sebagi berikut :

  1. Kelvin Aldo ( PK IMM FAI UMB)
  2. Elekusman (PK IMM TEKNIK UMB)
  3. Arip Kaprikon (PK IMM FAI UMB)

Dan di sampaikan oleh aktivis mahasiswa asal Mukomuko tersebut pada hari ini tanggal 14 Januari pengumuman dan penetapan akan di umum oleh Panitia pemilihan dan selanjutnya  harapakan kepada calon ketua umum tersebut mengikuti proses berikutnya ujarnya.

(Hazisko Saputra)

Berita Acara Penetapan Ketua Umum: Download 

 

Bersiaplah untuk IMM AWARD 2017

Assalamu’alaikum,

Halo, sahabat IMMawan dan IMMawati dimanapun sahabat berada.

Ikatan merah kita kembali berkiprah dan akan selalu memerahkan bumi Rafflesia tercinta ini. Kabar gembira untuk Kader IMM yang ada di penjuru Kota Bengkulu. Koordinator Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Universitas Muhammadiyah Bengkulu kembali akan melaksanakan acara yang paling bergengsi setiap tahunnya.

Pada Mei 2016 mendatang, Koorkom IMM UMB yang didukung penuh oleh DPD IMM dan PC IMM Kota Bengkulu, akan melaksanakan IMM AWARD 2017. Acara yang sangat bergengsi, yang melibatkan seluruh kader IMM di Bengkulu, dengan penganugerahan atau apresiasi yang luar biasa untuk kader-kader terbaik se-Kota Bengkulu.

Acara akan dimulai dengan Debat Komisariat yang insyaAllah dilaksanakan pada tanggal 25 April 2017 mendatang. Debat ini dikhususkan untuk kader-kader intelek per-komisariat yang ada di Kota Bengkulu.

Masing-masing komisariat juga diminta untuk menampilkan karya seni atau pertunjukan mereka di Malam Puncak Penganugerahan pada Mei mendatang. Di Malam Puncak Penganugerahan juga menampilkan bintang tamu luar biasa, Nasyid, Band, Tari Tradisional, Pembacaan Puisi, dan masih banyak lagi. Serta tidak lupa menghadirkan Undangan dari berbagai macam Tokoh, seperti Gubernur Provinsi Bengkulu, Walikota, Duta Mahasiswa, Duta Genre, dan Remaja berprestasi lainnya.

Acara ini juga bekerjasama dengan banyak pihak, serta bekerjasama dengan Korps Pers IMM Kota Bengkulu, yang akan langsung membantu berjalannya acara dan mempublikasikan kegiatan.

Oleh karena itu khusus untuk kader IMM yang ada di Bengkulu, mari persiapkan diri kalian untuk acara tahunan yang sangat bergengsi ini.(Fha)

Bengkulu, 12 April 2017

Korps Pers IMM Bengkulu

PELANTIKAN PC IMM KOTA BENGKULU DAN LEMBAGA OTONOM

PELANTIKAN PC IMM KOTA BENGKULU DAN LEMBAGA OTONOM

Assalamu’alaikum,

Sahabat IMMawan dan IMMawati,

Minggu kemarin, 19 Maret 2017 merupakan hari Pelantikan PC IMM Kota Bengkulu. Sebanyak 22 kader IMM beserta posisinya masing-masing berhasil di lantik oleh Ketum DPD IMM Kota Bengkulu langsung.

Tidak hanya PC IMM, kegiatan ini juga merupakan pelantikan bersama dengan 4 Lembaga Otonom, yaitu; Koordinator Komisariat IMM UMB, Korps Instruktur, Korps Pers IMM Bengkulu, serta Korps Ekonomi Kreatif. Keempat Lembaga Otonom ini dilantik langsung oleh PC IMM Kota Bengkulu.

Lembaga otonom yang baru ini hendaknya bertujuan untuk memberikan wadah bagi kader IMM yang ingin membentuk dan mengembangkan potensi diri.

Penyerahan SK Tugas Lembaga Otonom.

Acara juga dilanjutkan dengan Diskusi Panel menyikapi empat tahun kepemimpinan Helmi-Linda, serta langsung dengan penutupan rangkaian kegiatan Milad IMM yang ke 53.

Untuk Struktural dari PC IMM Kota Bengkulu, serta Lembaga Otonom akan diposting selanjutnya. (Fha)

Billahifii Sabililhaq Fastabiqul Khairat.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

Bengkulu, 26 Maret 2017

KORPS PERS IMM BENGKULU

IMM BERBAGI (Milad IMM 53)

IMM BERBAGI – MILAD IMM 53

Assalamu’alaikum,

Sahabat IMMawan dan IMMawati,

Pada tanggal 14 Maret 2017 kemarin, seluruh kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Bengkulu melaksanakan rangkaian kegiatan Milad IMM yang ke 53 lagi. Kali ini acaranya bertemakan “IMM Berbagi”.

Tepat pada hari Selasa (14/3), Kader IMM membagikan seribu bunga untuk masyarakat. Pembagiannya bertempat di sekitar Sport Center dan Pantai Panjang Bengkulu. IMMawan dan IMMawati terlihat sedang memberikan bunga kepada masyarakat yang sedang berwisata ataupun yang menjual makanan di kawasan pantai panjang ini.

Tidak hanya itu, IMM Berbagi juga melanjutkan acara dengan membagikan nasi bungkus dan kue kotak pada masyarakat kurang mampu, pada hari Kamis (16/3). Pembagian nasi bungkus dilakukan di Pasar Panorama, Mess Pemda, Pasar Minggu dan juga PTM Kota Bengkulu.

Selain untuk merayakan Milad IMM yang ke 53, kegiatan ini juga merupakan bentuk kepedulian kader IMM dalam bermasyarakat. Karena kader IMM tidak hanya intelek dalam berpikir, namun juga harus memiliki jiwa sosial yang tinggi, serta pengetahuan agama yang bagus. (Fha)

Billahifii Sabilihaq fastabiqul Khairat.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

Bengkulu, 26 Maret 2017

KORPS PERS IMM BENGKULU

MILAD IMM 53, PC IMM BENGKULU SELENGGARAKAN DISKUSI IMMAWATI

MILAD IMM 53, PC IMM BENGKULU SELENGGARAKAN DISKUSI IMMAWATI

Assalamu’alaikum.

Sahabat IMMawan dan IMMawati,

Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Bengkulu, baru saja mengadakan Diskusi IMMawati pada tanggal 11 Maret 2017. Ini merupakan salah satu rangkaian acara dalam memperingati Milad IMM yang ke 53. Diskusi ini juga bertempat di Aula Lantai 6 Kampus IV Universitas Muhammadiyah Bengkulu.

Lebih dari 240 peserta hadir dalam diskusi yang sangat menarik ini. Karena Diskusi IMMawati ini dikhususkan untuk IMMawati-IMMawati yang ada di Kota Bengkulu. Dengan penanggung jawab acara ini sendiri yaitu Kepala Bidang IMMawati PC IMM Kota Bengkulu, Sopie Anggraeni.

Dalam diskusi ini, PC IMM Bengkulu juga menghadirkan pemateri yang luar biasa, yaitu; Ayunda Riri Damayanti John Latief selaku Anggota DPD RI Dapil Bengkulu yang sudah memberikan materi mengenai “Peran Perempuan dalam Kepemimpinan dan Politik.” Serta Ayunda Susilowati selaku alumni dari IMM itu sendiri yang memberikan materi mengenai “Tanggung Jawab Seorang Perempuan.”

Tentunya apa yang disampaikan oleh Ayunda Riri dan Ayunda Susilowati merupakan hal penting untuk Kader IMMawati yang ada di Bengkulu. Peran perempuan juga hal yang harus dilihat dalam memajukan bangsa ini. Perempuan juga harus tangguh dalam menghadapi permasalahan-permasalahan. Karena di zaman sekarang perempuan bukanlah sesuatu yang direndahkan. Namun dibalik itu semua, jangan sampai kita lupa akan tugas atau tanggung jawab kita sebagai perempuan.

“Saya berharap acara ini dapat menjadi tolak ukur atau motivasi untuk IMMawati-IMMawati yang ada di Kota Bengkulu, pastinya tidak membatasi diri karena stereotype yang mengatakan bahwa wanita itu jauh dibawah laki-laki. Kita harus memiliki ketegasan dan ketepatan berpikir agar kita mampu menyaingi laki-laki. Tetapi tidak melupakan kodrat kita sebagai perempuan.” Ucap Sopie selaku Kabid IMMawati PC IMM Bengkulu.

Sahabat IMMawan dan IMMawati,

Jika sahabat penasaran bagaimana suasana Diskusi IMMawati berlangsung, Sahabat bisa lihat videonya di Youtube Link berikut ini. Sahabat akan ditemani langsung oleh salah satu reporter kita IMMawati Martia Trisna.

(https://www.youtube.com/watch?v=apxKpk84WAQ&t=118s)

Billahifii sabililhaq Fastabiqul Khairat.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

BENGKULU, 26 Maret 2017

Written by; Fha – KORPS PERS IMM BENGKULU

KH Ahmad Dahlan (Ketua 1912 – 1922)

Andai saja pada tahun 1868 tidak lahir seorang bayi bernama Muhammad Darwisy (ada literatur yang menulis nama Darwisy saja), Kampung Kauman di sebelah barat Alun-alun Utara Yogyakarta itu boleh dibilang tak memiliki keistimewaan lain, selain sebagai sebuah pemukiman di sekitar Masjid Besar Yogyakarta. Sejarah kemudian mencatat lain, dan Kauman pada akhirnya menjadi sebuah nama besar sebagai kampung kelahiran seorang Pahlawan Kemerdekaan Nasional Indonesia, Kiai Haji Ahmad Dahlan: Sang Penggagas lahirnya Persyarikatan Muhammadiyah pada 8 Dzulhijjah 1330 Hijriyah bertepatan dengan 18 November 1912. Muhammad Darwisy dilahirkan dari kedua orang tua yang dikenal sangat alim, yaitu KH. Abu Bakar (Imam Khatib Mesjid Besar Kesultanan Yogyakarta) dan Nyai Abu Bakar (puteri H. Ibrahim, Hoofd Penghulu Yogyakarta). Muhammad Darwisy merupakan anak keempat dari tujuh saudara yang lima diantaranya perempuan, kecuali adik bungsunya. Tak ada yang menampik silsilah Muhammad Darwisy sebagai keturunan keduabelas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali besar dan terkemuka diantara Wali Songo, serta dikenal pula sebagai pelopor pertama penyebaran dan pengembangan Islam di Tanah Jawa (Kutojo dan Safwan, 1991).

Demikian matarantai silsilah itu: Muhammad Darwisy adalah putra K.H. Abu Bakar bin K.H. Muhammad Sulaiman bin Kiyai Murtadla bin Kiyai Ilyas bin Demang Djurung Djuru Kapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Jatinom) bin Maulana Muhammad Fadlullah (Prapen) bin Maulana ‘Ainul Yaqin bin Maulana Ishaq bin Maulana Malik Ibrahim (Yunus Salam, 1968: 6). Muhammad Darwisy dididik dalam lingkungan pesantren sejak kecil, dan sekaligus menjadi tempatnya menimba pengetahuan agama dan bahasa Arab. Ia menunaikan ibadah haji ketika berusia 15 tahun (1883), lalu dilanjutkan dengan menuntut ilmu agama dan bahasa Arab di Makkah selama lima tahun. Di sinilah ia berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam dunia Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha, dan Ibnu Taimiyah. Buah pemikiran tokoh-tokoh Islam ini mempunyai pengaruh yang besar pada Darwis. Jiwa dan pemikirannya penuh disemangati oleh aliran pembaharuan ini yang kelak kemudian hari menampilkan corak keagamaan yang sama, yaitu melalui Muhammadiyah, yang bertujuan untuk memperbaharui pemahaman keagamaan (ke-Islaman) di sebagian besar dunia Islam saat itu yang masih bersifat ortodoks (kolot). Ortodoksi ini dipandang menimbulkan kebekuan ajaran Islam, serta stagnasi dan dekadensi (keterbelakangan) ummat Islam. Oleh karena itu, pemahaman keagamaan yang statis ini harus dirubah dan diperbaharui, dengan gerakan purifikasi atau pemurnian ajaran Islam dengan kembali kepada al-Qur’an dan al-Hadis. Pada usia 20 tahun (1888), ia kembali ke kampungnya, dan berganti nama Haji Ahmad Dahlan (suatu kebiasaan dari orang-orang Indonesia yang pulang haji, selalu mendapat nama baru sebagai pengganti nama kecilnya). Sepulangnya dari Makkah ini, iapun diangkat menjadi Khatib Amindi lingkungan Kesultanan Yogyakarta.

Pada tahun 1902-1904, ia menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya yang dilanjutkan dengan memperdalam ilmu agama kepada beberapa guru di Makkah. Sepulang dari Makkah, ia menikah dengan Siti Walidah, saudara sepupunya sendiri, anak Kyai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Dari perkawinannya dengan Siti Walidah, K.H. Ahmad Dahlan mendapat enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah (Kutojo dan Safwan, 1991). Di samping itu, K.H. Ahmad Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah, janda H. Abdullah. Ia juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. K.H. Ahmad Dahlan juga mempunyai putera dari perkawinannya dengan Ibu Nyai Aisyah (adik Ajengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Beliau pernah pula menikah dengan Nyai Yasin, Pakualaman Yogyakarta (Yunus Salam, 1968: 9). Ahmad Dahlan adalah seorang yang sangat hati-hati dalam kehidupan sehari-harinya. Ada sebuah nasehat yang ditulisnya dalam bahasa Arab untuk dirinya sendiri:

“Wahai Dahlan, sungguh di depanmu ada bahaya besar dan peristiwa-peristiwa yang akan mengejutkan engkau, yang pasti harus engkau lewati. Mungkin engkau mampu melewatinya dengan selamat, tetapi mungkin juga engkau akan binasa karenanya. Wahai Dahlan, coba engkau bayangkan seolah-olah engkau berada seorang diri bersama Allah, sedangkan engkau menghadapi kematian, pengadilan, hisab, surga, dan neraka. Dan dari sekalian yang engkau hadapi itu, renungkanlah yang terdekat kepadamu, dan tinggalkanlah lainnya (diterjemahkan oleh Djarnawi Hadikusumo).

Dari pesan itu tersirat sebuah semangat dan keyakinan yang besar tentang kehidupan akhirat. Dan untuk mencapai kehidupan akhirat yang baik, maka Dahlan berpikir bahwa setiap orang harus mencari bekal untuk kehidupan akhirat itu dengan memperbanyak ibadah, amal saleh, menyiarkan dan membela agama Allah, serta memimpin ummat ke jalan yang benar dan membimbing mereka pada amal dan perjuangan menegakkan kalimah Allah. Dengan demikian, untuk mencari bekal mencapai kehidupan akhirat yang baik harus mempunyai kesadaran kolektif, artinya bahwa upaya-upaya tersebut harus diserukan (dakwah) kepada seluruh ummat manusia melalui upaya-upaya yang sistematis dan kolektif. Kesadaran seperti itulah yang menyebabkan Dahlan sangat merasakan kemunduran ummat Islam di tanah air. Hal ini merisaukan hatinya. Ia merasa bertanggung jawab untuk membangunkan, menggerakkan dan memajukan mereka. Dahlan sadar bahwa kewajiban itu tidak mungkin dilaksanakan seorang diri, tetapi harus dilaksanakan oleh beberapa orang yang diatur secara seksama. Kerjasama antara beberapa orang itu tidak mungkin tanpa organisasi.

Untuk membangun upaya dakwah (seruan kepada ummat manusia) tersebut, Dahlan gigih membina angkatan muda untuk turut bersama-sama melaksanakan upaya dakwah tersebut, dan juga untuk meneruskan dan melangsungkan cita-citanya membangun dan memajukan bangsa ini dengan membangkitkan kesadaran akan ketertindasan dan ketertinggalan ummat Islam di Indonesia.

Strategi yang dipilihnya untuk mempercepat dan memperluas gagasannya tentang gerakan dakwah Muhammadiyah ialah dengan mendidik para calon pamongpraja (calon pejabat) yang belajar di OSVIA Magelang dan para calon guru yang belajar di Kweekschool Jetis Yogyakarta, karena ia sendiri diizinkan oleh pemerintah kolonial untuk meng­ajarkan agama Islam di kedua sekolah tersebut.

Dengan mendidik para calon pamongpraja tersebut diharapkan akan dengan segera memperluas gagasannya tersebut, karena mereka akan menjadi orang yang mempunyai pengaruh luas di tengah masyarakat. Demikian juga dengan mendidik para calon guru yang diharapkan akan segera mempercepat proses transformasi ide tentang gerakan dakwah Muhammadiyah, karena mereka akan mempunyai murid yang banyak. Oleh karena itu, Dahlan juga mendirikan sekolah guru yang kemudian dikenal dengan Madrasah Mu’allimin (Kweekschool Muhammadiyah) dan Madrasah Mu’allimat (Kweekschool Putri Muhammadiyah). Dahlan mengajarkan agama Islam dan tidak lupa menyebarkan cita-cita pembaharuannya.

Di samping aktif dalam menggulirkan gagasannya tentang gerakan dakwah Muham­madiyah, ia juga tidak lupa akan tugasnya sebagai pribadi yang mempunyai tanggung jawab pada keluarganya. Di samping itu, ia juga dikenal sebagai seorang wirausahawan yang cukup berhasil dengan berdagang batik yang saat itu merupakan profesi entrepreneurship yang cukup menggejala di masyarakat.

Sebagai seorang yang aktif dalam kegiatan bermasyarakat dan mempunyai gagasan-gagasan cemerlang, Dahlan juga dengan mudah diterima dan dihormati di tengah kalangan masyarakat, sehingga ia juga dengan cepat mendapatkan tempat di organisasi Jam’iyatul Khair, Budi Utomo, Syarikat Islam, dan Comite Pembela Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Pada tahun 1912, Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita pembaharuan Islam di bumi Nusantara. Ahmad Dahlan ingin mengadakan suatu pembaharuan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam. Ia ingin mengajak ummat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan Al-Qur’an dan Al-Hadis. Perkumpulan ini berdiri pada tanggal 18 Nopember 1912. Sejak awal Dahlan telah menetapkan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi politik tetapi bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan.

Gagasan pendirian Muhammadiyah oleh Ahmad Dahlan ini juga mendapatkan resistensi, baik dari keluarga maupun dari masyarakat sekitarnya. Berbagai fitnahan, tuduhan dan hasutan datang bertubi-tubi kepadanya. Ia dituduh hendak mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam. Ada yang menuduhnya kiai palsu, karena sudah meniru-niru bangsa Belanda yang Kristen dan macam-macam tuduhan lain. Bahkan ada pula orang yang hendak membunuhnya. Namun rintangan-rintangan tersebut dihadapinya dengan sabar. Keteguhan hatinya untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaharuan Islam di tanah air bisa mengatasi semua rintangan tersebut.

Pada tanggal 20 Desember 1912, Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan badan hukum. Permohonan itu baru dikabulkan pada tahun 1914, dengan Surat Ketetapan Pemerintah No. 81 tanggal 22 Agustus 1914. Izin itu hanya berlaku untuk daerah Yogyakarta dan organisasi ini hanya boleh bergerak di daerah Yogyakarta. Dari Pemerintah Hindia Belanda timbul kekhawatiran akan perkembangan organisasi ini. Itulah sebabnya kegiatannya dibatasi.

Walaupun Muhammadiyah dibatasi, tetapi di daerah lain seperti Srandakan, Wonosari, Imogiri dan lain-lain tempat telah berdiri Cabang Muham­madiyah. Hal ini jelas bertentangan dengan dengan keinginan pemerintah Hindia Belanda. Untuk meng­atasinya, maka K.H. Ahmad Dahlan menyiasa­tinya dengan menganjurkan agar Cabang Muhammadiyah di luar Yogyakarta memakai nama lain, misalnya Nurul Islam di Pekalongan, Al-Munir di Makassar, dan di Garut dengan nama Ahmadiyah. Sedangkan di Solo berdiri perkumpulan Sidiq Amanah Tabligh Fathonah (SATF) yang mendapat pimpinan dari Cabang Muhammadiyah.

Di dalam kota Yogyakarta sendiri, Ahmad Dahlan menganjurkan adanya jama’ah dan perkumpulan untuk mengadakan pengajian dan menjalankan kepentingan Islam. Perkumpulan-perkumpulan dan Jamaah-jamaah ini mendapat bimbingan dari Muhammadiyah, yang di antaranya ialah Ikhwanul Muslimin, Taqwimuddin, Cahaya Muda, Hambudi-Suci, Khayatul Qulub, Priya Utama, Dewan Islam, Thaharatul Qulub, Thaharatul-Aba, Ta’awanu alal birri, Ta’ruf bima kanu wal-Fajri, Wal-Ashri, Jamiyatul Muslimin, Syahratul Mubtadi (Kutojo dan Safwan, 1991: 33). Gagasan pembaharuan Muhammadiyah disebarluaskan oleh Ahmad Dahlan dengan mengadakan tabligh ke berbagai kota, di samping juga melalui relasi-relasi dagang yang dimilikinya. Gagasan ini ternyata mendapatkan sambutan yang besar dari masyarakat di berbagai kota di Indonesia. Ulama-ulama dari berbagai daerah lain berdatangan kepadanya untuk menyatakan dukungan terhadap Muhammadiyah. Muhammadiyah makin lama makin berkembang hampir di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, pada tanggal 7 Mei 1921 Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Permohonan ini dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 2 September 1921.

Dalam bulan Oktober 1922, Ahmad Dahlan memimpin delegasi Muhammadiyah dalam kongres Al-Islam di Cirebon. Kongres ini diselenggarakan oleh Sarikat Islam (SI) guna mencari aksi baru untuk konsolidasi persatuan ummat Islam. Dalam kongres tersebut, Muhammadiyah dan Al-Irsyad (perkum­pulan golongan Arab yang berhaluan maju di bawah pimpinan Syeikh Ahmad Syurkati) terlibat perdebatan yang tajam dengan kaum Islam ortodoks dari Surabaya dan Kudus. Muhammadiyah dipersa­lahkan menyerang aliran yang telah mapan (tradisionalis-konservatif) dan dianggap memba­ngun mazhab baru di luar mazhab empat yang telah ada dan mapan.

Muhammadiyah juga dituduh hendak mengada­kan tafsir Qur’an baru, yang menurut kaum ortodoks-tradisional merupakan perbuatan terlarang. Menanggapi serangan tersebut, Ahmad Dahlan menjawabnya dengan argumentasi: “Muhammadiyah berusaha bercita-cita mengangkat agama Islam dari keadaan terbekelakang. Banyak penganut Islam yang menjunjung tinggi tafsir para ulama dari pada Qur’an dan Hadis. Umat Islam harus kembali kepada Qur’an dan Hadis. Harus mempelajari langsung dari sumbernya, dan tidak hanya melalui kitab-kitab tafsir”.

Sebagai seorang demokrat dalam melaksanakan aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, Dahlan memfasilitasi para anggota Muhammadiyah untuk proses evaluasi kerja dan pemilihan pemimpin dalam Muhammadiyah. Selama hidupnya dalam aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, telah diselenggarakan duabelas kali pertemuan anggota (sekali dalam setahun), yang saat itu dipakai istilah Algemeene Vergadering (persidangan umum). Atas jasa-jasa K.H. Ahmad Dahlan dalam mem-bangkitkan kesadaran bangsa ini melalui pemba­haruan Islam dan pendidikan, maka Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional dengan surat Keputusan Presiden no. 657 tahun 1961. Dasar-dasar penetapan itu ialah sebagai berikut :

  1. K.H. Ahmad Dahlan telah memelopori kebangkitan ummat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat.
  2. Dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya, telah banyak memberikan ajaran Islam yang murni kepada bangsanya. Ajaran yang menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat dan ummat, dengan dasar iman dan Islam.
  3. Dengan organisasinya, Muhammadiyah telah mempelopori amal usaha sosial dan pendidikan yang amat diperlukan bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa, dengan jiwa ajaran Islam.
  4. Dengan organisasinya, Muhammadiyah bagian wanita (Aisyiyah) telah mempelopori kebangkitan wanita Indonesia untuk mengecap pendidikan dan berfungsi sosial, setingkat dengan kaum pria.

Kader IMM, Menulislah!

Ajakan untuk menulis ini sebenarnya hanyalah sebuah refleksi atas fenomena copy-paste dan share di era sosial media ini. Beberapa kali, saya diskusi di group atau inbox, namun tak sedikit menemukan postingan yang itu copas dari website lain atau hanya sekedar copas link. Padahal, yang namanya diskusi, seharusnya jawaban muncul secara orisinil. Bukan menyitir pendapat tertentu atau hanya sekedar kasih link. Pendapat orang atau link website bisa menjadi penguat atas argumentasi kita, dan bukan menjadi jawaban atas diskusi itu sendiri.

Tulisan ini ditujukan secara spesifik kepada kader IMM, selain karena saya terafiliasi dalam organisasi ini, kader IMM pastinya adalah mahasiswa yang telah dengan sadar memilih IMM sebagai saluran idealisme sebagai kaum terdidik. Dan apalagi, saya sebagai Mantan Kabid Keilmuan (RPK), jadi ajakan untuk menulis itu sangat relevan dan realistis. Karena aktivitas menulis, tidak bisa lepas dari dua aktivitas lain yang juga menjadi konsumsi pokok Mahasiswa : Membaca dan Menganalisis.

Pertama. Jika ada sebuah isu, berita, atau fenomena di Masyarakat. Bacalah sumber-sumber yang ada. Usahakan jangan satu arah, bacalah dari banyak perspektif. Setelah kiranya cukup, maka buatlah analisis. Dalam hal ini, diskusi menjadi hal yang penting. Entah diskusi dengan teman komisariat, dosen, atau pakar dalam bidang tersebut. Setelah itu, cobalah buat tulisan. Kalau memang tidak ingin terlalu berat dan formal, buatlah esai sederhana, dengan bahasa yang secair mungkin.

Selama ini, saya lebih suka menulis dengan gaya Jurnalisme feature dan bukan karya ilmiah populer. Alasannya sederhana, lebih mudah dan santai. Apalagi, kalau menggunakan gaya penulisan Jurnalis, maka secara segmental, semua orang bisa mengkonsumsi dengan baik. kalau karya ilmiah, kadang hanya kalangan tertentu yang paham, apalagi kalau muncul istilah-istilah interdisipliner. Nah, barusan saya gunakan istilah itu. hehe.

Belakangan, saya banyak melihat para pengguna sosial media. Baik facebook, twitter, atau path (karena saya tidak menggunakan WA dan BBM, jadi kurang tahu) yang hanya sekedar share link tertentu dan dia sepakat dengan apa yang tertulis dalam website itu. Dan jika ditanya alasan, atau diajak diskusi lebih jauh, justru banyak yang malah menunjukkan link-link website lain yang serupa. Ada lagi yang memberikan jawaban panjang, namun ternyata adalah copas dari perspektif orang lain. Setelah ditanya beberapa istilah yang ia copaskan tersebut, ia tentu tidak akan tahu karena bukan dia yang menulis.

Disitu kadang saya merasa sedih. Kenapa? Seharusnya, sebagai Mahasiswa, yang hidup dalam tradisi akademik dan berinteraksi dengan dunia wacana, sebisa mungkin menjauhi hal-hal semacam itu. Mahasiswa, seharusnya memproduksi karya-karya baru. Entah itu berupa esai, artikel ilmiah, Jurnal, hingga Buku. Atau kalau perlu menyalurkan opininya ke berbagai media massa baik koran atau majalah. Bukan sekedar share atau copas link dari website yang penulisnya pun seorang mahluk tak bernama alias admin. Apalagi, jika kita amati, banyak media online yang rubriknya berita, tapi muatannya subyektif sekali, mirip sebuah opini.

Jujur saja, di media sosial saya juga sering share. Tapi share tulisan saya sendiri. Jadi kalau ada pertanyaan, protes, atau sekedar keberatan, bisa langsung mengklarifikasi saya sebagai pembuatnya dan saya pun juga bisa menjelaskan tulisan itu (tanpa takut salah tafsir) karena saya sendiri yang membuat.

Hal itu akan susah kalau anda menggunakan opini orang lain yang seolah-olah opini anda, lalu anda tafsirkan opini itu sebagaimana tafsir subyektif anda. Ini menjadi semacam “pembajakan persepsi”. Apalagi kalau sudah masuk plagiat. Percayalah, sejelek apapun tulisan anda, selama itu orisinil, masih jauh lebih membahagiakan daripada tulisan bagus tapi hasil copas, yang dalam hitungan waktu akan banyak orang yang tahu.

Saya selalu percaya diri dengan tulisan-tulisan saya, meskipun itu jelek kata orang. Saya juga Percaya diri ketika membuat satu genre baru dalam tulisan. Memadukan antara bahasa berita, esai, dan kadang bahasa ilmiah, yang kemudian oleh sebagian teman disebut sebagai Fahri’s style. Fahri’s style pun juga hanya saya posting di Blog pribadi, yang merupakan my freedom zone. Karena kalau kita menulis di media mainstream, tentu kita harus mengikuti aturan yang telah tertera.

Tapi setidaknya, saya turut memproduksi tulisan sendiri yang menjadi argumentasi atas isu atau fenomena tertentu. Bukan copas atau sekedar share link. Saya turut meramaikan pergulatan opini. Bukan sekedar sebagai justifikator.

Harapan terbesar saya, karena memang sudah banyak mahasiswa yang lebih suka copas atau sekedar share link daripada menunjukkan pendapatnya secara utuh, maka kader IMM sebagai Organisasi Mahasiswa, yang memiliki tri kompetensi dasar sebagai idealisme atas gerakannya, harus menjadi pembeda (Furqon) dari mahasiswa yang memang tidak terafiliasi dengan IMM.

Berita, wacana, atau opini-opini yang ada di website bolehlah menjadi sekedar bacaan, atau kalau hendak share tulisan itu, sekedar just for informate. Bukan menjadikannya sebagai justifikasi atas pemikiran kita. kita harus tetap mandiri, setidaknya dalam berpendapat, meskipun pendapatnya mungkin sama atau hampir sama. Lagipula, pendapat bisa sama, tapi penyampaian tak akan sama. Pasti ada sisi yang membedakan. Entah itu dari sudut pandang hingga diksi.

Khusus untuk diskusi, kalau itu diskusinya di dunia maya, maka jangan sekedar share link, apalagi hanya copas opini dari media lain. ketik saja opini kita sendiri. Kalau memang tidak telaten, diskusi saja di dunia nyata dengan bahasa verbal, agar fell-nya lebih terasa.

Jadilah creator, bukan justifikator. Jadilah pelopor, bukan pengompor. Jadilah pioner bukan follower atau viewer.

Mulailah dari sekarang. Karena menulis bukan soal teori, tapi soal kebiasaan. Apalagi, menulis juga tidak semudah membuat mie instan yang gampang di masak dan rasanya enak. Segalanya butuh proses dan memang harus segara dimulai. Mulailah dari hal yang paling sederhana dan mudah dijangkau.

Yuk Menulis! Jayalah IMM Jaya.

Lamongan, 21 Maret 2015

A Fahrizal Aziz

Sumber : https://inditana.blogspot.co.id/2015/10/kader-imm-menulislah.html

Loyalitas ber-IMM ??

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah atau IMM, begitulah kawan-kawan mahasiswa menyebutnya. IMM adalah sebuah organisasi dengan gerakan “Perkaderan” yang menjadi “anak kandung” salah satu ormas besar islam di Indonesia, Muhammadiyah. IMM berdiri sekitar 52 tahun setelah berdirinya Muhammadiyah, tepatnya pada 14 Maret 1964. Berdirinya IMM yang “katanya” adalah pengaruh faktor internal dan eksternal, dimana sejatinya merupakan “kebutuhan pribadi” Muhammadiyah yang membutuhkan adanya ortom (organisasi otonom) yang mampu kiranya melahirkan kader-kader penerus di Muhammadiyah karena sebelumnya perkaderan yang terjadi dalam tubuh Muhammadiyah merupakan hasil perkaderan dari HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) yang notabene merupakan organisasi kemahasiswaan islam secara umum.
Secuil profil dan sejarah tersebut berasal buku karangan salah satu tokoh IMM, Farid Fathoni (Kelahiran yang Dipersoalkan). Kita mundur ke belakang, masuk kuliah tanpa sedikitpun bekal organisasi dari SMK, apalagi organisasi perkaderan seperti IMM dan sejenisnya. Alhasil organisasi-organisasi internal macam UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) pun coba kujelajahi walaupun pada akhirnya tidak menemukan sedikitpun kenyamanan. Beranjak akhir semester 1, BEM FT (Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik) menjadi pelampiasan atas keingintahuan terhadap dunia organisasi.
Mengenal IMM sejak awal kuliah, tapi rasa timbul rasa “acuh” dan “ingin tahu” terhadap IMM hingga pada akhirnya di semester 3 barulah rasa ingin tahu tersebut memenangkan pikiranku untuk kemudian mengikuti DAD (Darul Arqam Dasar). Dari situ mulailah diriku mengenal dan sedikit merasakan manfaat ber-IMM.
Tapi, kemudian ada kala dimana rasa acuh tersebut memenangkan otakku dimana diriku lebih memilih untuk “beraksi” di internal kampus (BEM FT) hingga periode keduaku di BEM FT. Dalam benak sadar betul bahwa diriku belum bisa memberikan kontribusi nyata dalam ikatan, baik kontribusi materi, pikiran, maupun tenaga, aku hanya tahu tentang acara, tanpa memahami sedikitpun ideologi dan dasar-dasar bem-IMM.
Menginjak periode ketigaku di BEM FT, aku sadar betul bahwa aku adalah Immawan, aku adalah kader IMM, aku harus berproses, aku harus memberikan sumbangsih bagi ikatan ini. Hingga pada akhirnya aku mulai belajar untuk ber-IMM lebih baik. Membaca buku, berdiskusi, tanya-jawab, dsb menjadi caraku untuk lebih mendalami dan menumbuhkan loyalitas dalam diri.
“Aku tak mampu memberikan materi bagi ikatan ini, tapi aku akan berusaha sekuat tenaga untuk memberikan sumbangsih baik pikiran maupun tenaga”.
Dengan apa yang telah kualami hingga saat ini aku “duduk” dalam Pimpinan Cabang IMM Bangkalan, aku coba mengaitkan dengan realita yang terjadi dalam tubuh IMM Bangkalan dimana banyak dari kader IMM Bangkalan yang menjadi terkesan “acuh” dengan ikatan yang telah dibuatnya, dengan IMM. Banyak faktor yang bisa memengaruhuinya.
Salah satu faktor adalah kurangnya pembinaan dalam IMM, tidak menemukan kenyamanan dalam ber-IMM, perbedaan sudut pandang, dan hal yang paling “vital” adalah “belum pahamnya dan belum merasuknya” dasar-dasar dalam ber-IMM sehingga tidak bisa memunculkan loyalitas dari diri mereka.
Dari sekian banyak “list” kader IMM Bangkalan, hanya tersisa sekitar 20-30 kader yang aktif. Itupun belum pasti apakah aktifnya mereka sebab loyalitasnya dari dalam dirinya, ataukah ada faktor pemicu lain, misal malu, sungkan, disuruh, dsb, banyak alasan untuk itu.
Sejatinya untuk memunculkan loyalitas dalam diri juga bukan perkara mudah, kader harus memahami ideologi, kader harus paham ethick of IMM, nilai-nilai Ikatan, ketika hal tersebut telah merasuk dalam diri kader, maka akan muncul “fanatisme” terhadap IMM, akan timbul rasa memiliki terhadap IMM, akan menghasilkan loyalitas.
PR tersebut bukanlah perkara mudah mengingat sejatinya IMM telah berumur 52 tahun (14 Maret 1964-14 Maret 2016) dan belakangan peran IMM dalam dalam perkaderan mulai dikesampingkan. Lalu apa yang harus diperbuat ?? itulah yang menjadi pertanyaan besar kita. Bagaimana kita harus merubah wajah IMM sehingga semakin “bertaring” karena sejatinya IMM juga merupakan salah satu organisasi besar dalam kemahasiswaan.
Mau-tidak mau kita harus memulai dari pribadi masing-masing bagaimana upaya kita untuk memberikan sumbangsih kita pada ikatan ini, bagaimana kita mengajak kader-kader lain untuk turut belajar, turut berjalan bersama dalam ikatan ini.
Semoga kedepan IMM mampu mengembalikan kejayaannya dan kembali mampu menancapkan taringnya dalam perkaderan, organisasi kemahasiswaan, dan berbagai bidang lainnya. Amiin…
Billahi fii Sabililhaq Fastabiqul Khoirot
Penulis :
Ubay Nizar Al-Banna
Kabid. Organisasi PC IMM Bangkalan 2015/2016

Mahasiswa ??

Mahasiswa, begitu mereka menyebut diri mereka sebagai sosok intelektual, akademisi, bukan sekedar “siswa” tetapi “maha”, lebih dari tingkatakn siswa biasa, “katanya”. Para mahasiswa harusnya memiliki pemikiran ke depan yang lebih baik, mampu mempertimbangkan berbagai hal sesuai dengan porsinya. “Katanya” pula, mahasiswa memiliki trifungsi sebagai human of analysis, agent of change, dan social control. Tapi, itu baru “katanya”.
Menilik jauh kebelakang, sejatinya peran mahasiswa memanglah demikian, sebagai kaum intelektual yang lebih tahu berbagai aspek memanglah mampu untuk membawa semangat perubahan, semangat pergerakan bagi bangsa indonesia. Mulai dari ikrar sumpah pemuda, melompat agak jauh ada pula peristiwa penculikan Ir. Soekarno – Moh. Hatta sebelum proklamasi, ada pula peristiwa lengsernya Ir. Soekarno, Penumpasan PKI yang salah satunya juga dimotori oleh pergerakan para mahasiswa, melompat lebih jauh adalah peristiwa penggulingan Soeharto 1998 yang membawa angin reformasi bagi bangsa Indonesia.
Namun melihat realita kini, dimanakah peran mahasiswa sekarang bagi bangsa ini ? Bagaimanakah pergerakan mahasiswa kini ?
Jika, kita kembali menoleh kebelakang gerakan mahasiswa seolah sinkron dalam satu kesatuan sehingga dapat menghasilkan semangat dan kekuatan yang besar. Ketika kita cermati sekarang, setelah bergulirnya era-reformasi, dimana mahasiswa sekarang ? Seolah gerakan dari mahasiswa kini tak tampak, lenyap dan tertutupi oleh isu-isu lain, kalah populer dengan gosip-gosip artis, redup akan sinar sinetron dan pemberitaan-pemberitaan lain. Bahkan seolah mahasiswa sekarang, aktivis mahasiswa kini telah mengalami pergeseran citra yang seolah hanya bisa berbuat onar, anarkis, dan hanya bisa unjuk rasa.
Berbagai kelompok, komunitas, dan organisasi-organisasi kemahasiswaan seolah nyaman dengan kondisi yang ada sekarang. Nyaman dengan “bobrok” nya berbagai institusi pemerintah, pejabat-pejabat korup, dan berbagai hal tak pantas lainnya. Kenapa kemudian pasca peristiwa ’98 mahasiswa seolah menghilang tak nampak batang hidungnya ?
Ketika kita melihat sejatinya gerakan mahasiswa angkatan ’98 hanya terfokus pada satu misi, untuk melengserkan Soeharto yang kala itu dianggap sebagai “musuh besar bersama”. Lalu kini sebenarnya kemanakah arah tujuan pergerakan mahasiswa, aktivis sekarang ?
Sejatinya mahasiswa aktivis kini masihlah berproses dan bergerak dalam koridornya masing-masing, walaupun hanya sebagian. Kebanyakan mahasiswa kini cenderung hedonis sehingga sukar ditemui para mahasiswa yang berpikir ke depan untuk berusaha mewujudkan cita-cita reformasi menjadi benar-benar mereformasi berbagai aspek kehidupan maupun dalam berbangsa dan bernegara menjadi lebih baik. Perbedaan ideologi, manhaj al-fiqr sejatinya bukanlah suatu permasalahan serius karen setiap individu pastinya memiliki keyakinan, kepercayaan, sudut pandang, dan pola pikirnya masing-masing. Selama kita masih memiliki harapan dan keinginan yang serupa untuk memperbaiki negeri ini, maka berbagai pemikiran dan sudut pandang justru diperlukan sehingga dapat lebih memperkuat dasar dan action yang dilakukan.
Penulis :
Ubay Nizar Al-Banna
Kabid Organisasi PC IMM Bangkalan 2015/2016

Aksi Keterlambatan Pengesahan APBD Kota Bengkulu

PCIMMBengkulu.com – Semangat menggelora dan keinginan yang kukuh para Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Bengkulu menggelar Aksi Menuntut disegerakannya pengesahan APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) di Kantor DPRD Kota Bengkulu, senin (23/1/2017).

“Kami sangat prihatin  dengan tindakan yang seolah mempermainkan Masyarakat di Kota Bengkulu, karena jikalau ini terlambat akan ada banyak permasalahan  yang timbul diberbagai sektor” Korlap Aksi Jaka Dernata

Seharusnya anggota DPRD Kota Bengkulu lebih sigap akan kepentingan Masyarakat terutama Kota Bengkulu.